Apa kabar ibu?

  • 0

Apa kabar ibu?

Category : Info , Journey , Real , Renungan , Share , Sharing Islami

1433220666166

Berkunjung ke rumah ibu dan nenek tercinta..

“Apa kabar?”
Lama ga ketemu, gimana kabarnya?
Apa kabar si kakak ?
Bagaimana kabarmu..

Disaat aku terlalu sibuk dengan mengajukan pertanya-pertanyaan apa kabar kepada orang lain, aku lupa ada mereka yang selalu lupa kutanyakan kabarnya tetapi selalu ingat menanyakan kabarku.

Ini tentang mereka, orang-orang yang selalu mendukungku dengan doa. Ini tentang mereka yang memberiku kasih sayang dengan perhatian. Ini tentang mereka… Ayah, Ibu dan Kakak-adikku….

Tetapi pertanyaan apa kabar terutama untukmu (bu) aku sudah lama tidak menanyakannya…..
.
.
.
Ibu apa kabar?
Maaf untuk beberapa waktu lupa menanyakan kabarmu melalui (doa)
Maaf untuk beberapa waktu tidak mengunjungimu…..
…..
Dan hari ini Allah dengan baik hatinya, selalu mengingatkan untuk mengingatmu,  mengingatkan agar selalu menjadi hamba yang soleh, menjadi  anakmu yang soleh bu, mengingatkan bahwa suatu saat aku akan bertemu mu bu di taman-taman surga-Nya, insya Allah dengan izin Allah tentunya.

Apa kabar bu, aku rindu!

ziarah

Menurut Ibnu abdil Barr, diriwayatkan dari Nabi Saw, bahwa beliau bersabda, “Tidaklah ada di antara orang Muslim yang lewat di dekat kubur saudaranya, yang dikenalnya selagi di dunia, lalu dia mengucapkan salam kepadanya, melainkan Allah mengembalikan ruhnya kepadanya hingga dia membalas salamnya itu.”

Ini merupakan nash yang menunjukkan bahwa orang yang sudah meninggal dunia dan terbujur di dalam kuburnya, bisa mengetahuinya dan juga membalasa salamnya.

Di dalam As-Shahihain diriwayatkan dari Rasulullah Saw dari beberapa jalan, bahwa beliau memerintahkan untuk mengumpulkan para korban perang Badr (dari kalangan musyrikin Quraisy) dan melemparkannya ke dalam sebuah lubang bekas sumur. Kemudian beliau mendekat dan berdiri di dekat mereka sambil memanggil nama mereka satu persatu, “Hai Fulan bin Fulan, hai Fulan bin Fulan, apakah kalian mendapatkan apa yang janjikan oleh Rabb kalian adalah benar? Sesungguhnya aku mendapatkan apa yang janjikan Rabb-ku kepadaku adalah benar.

Umar bin Khaththab ra bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin engkau berbicara dengan orang-orang yang sudah menjadi  bangkai?”

Beliau menjawab, “Demi Yang mengutusku dengan kebenaran, mereka lebih mampu mendengar apa yang kukatakan daripada kalian, hanya saja mereka tidak mampu menjawab.”

Diriwayatkan dari beliau, bahwa orang yang meninggal dunia dapat mendengar suara sandal orang-orang yang mengiringinya, saat mereka meninggalkan kuburnya.

Nabi Saw mensyariatkan kepada umatnya, agar mereka mengucapkan salam kepada ahli kubur, seperti salam yang mereka ucapkan kepada lawan bicara, dengan lafazh sebagai berikut, “Salam sejahtera atas kalian, tempat tinggal orang-orang Mukmin.” Ucapan semacam ini layak disampaikan kepada orang yang dapat mendengar dan memikirkannya. Jika tidak, maka ucapan semacam ini hanya ditujukan kepada orang yang tidak ada di tempat atau benda mati.

Orang-orang salaf telah menyepakati hal ini dan banyak atsar yang diriwayatkan dari mereka, bahwa orang yang meninggal dunia dapat mengetahui ziarah orang yang masih hidup di atas kuburnya, dan dia merasa gembira karena kedatangannya itu.

Abu Bakar bin Abdullah bin Muhammad bin Ubaid bin Abud-Dunya mengatakan di dalam Kitabul Qubur, tentang orang yang meninggal dunia dan mengetahui kedatangan orang yang masih hidup, dari Aisyah ra, dia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Tidaklah seseorang menziarahi kubur saudaranya dan duduk di sisinya, melainkan ia mendengarnya dan menjawab perkataannya, hingga dia bangkit.’

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata, “Apabila seseorang melewati kuburan saudara yang dikenalnya lalu dia mengucapkan salam kepadanya, maka dia membalas salamnya dan mengenalinya. Jika dia melewati kuburan orang yang tidak dikenalnya lalu mengucapkan salam, maka dia hanya membalas salamnya.”

Dari seseorang dari kerabat Ashim al-Jahdari, dia berkata, “Aku bermimpi bertemu dengan al-Jahdari, enam hari setelah dia meninggal dunia. Dalam mimpi itu aku bertanya kepadanya, “Bukankah engkau sudah meninggal dunia?”

“Benar,” jawabnya.

“Di mana engkau berada saat ini?” aku bertanya.

Dia menjawab, “Demi Allah, aku berada di sebuah taman dari taman-taman surga. Aku bersama beberapa rekanku berkumpul pada setiap malam Jum’at dan pagi harinya lalu kami sama-sama menghadap Abu Bakar bin Abdullah al-Mazny, untuk mencari kabar tentang kalian.”

Aku bertanya lagi, “Apakah itu jasad kalian atau ruh kalian?”

“Sama sekali tidak. Jasad telah usang. Hanya ruh-ruh yang saling bertemu,” jawabnya.

“Apakah kalian mengetahui kedatangan kami yang menziarahi kalian?” tanyaku.

“Ya, kami mengetahuinya pada Jum’at petang dan pada hari Sabtu hingga terbit matahari,” jawabnya.

Aku bertanya lagi, “Mengapa yang demikian itu tidak berlaku bagi semua hari?”

Dia menjawab, “Mengingat kelebihan hari Jum’at dan keagungannya.”

Dari Hasan al-Qashab, dia berkata, “Setiap Sabtu pagi aku pergi bersama Muhammad bin Wasi’ ke kuburan. Kami mengucapkan salam kepada orang-orang yang dikubur di sana dan juga mendoakan mereka. Setelah itu kami kembali. Suatu hari kukatakan kepada Muhammad bin Wasi’, “Bagaimana jika jadwal ziarah kita ubah menjadi hari Senin?”

Dia menjawab, “Aku pernah mendengar riwayat bahwa orang-orang yang meninggal dunia dapat mengetahui para peziarahnya pada hari Jum’at dan sehari sebelum dan sesudahnya.”

Dari Sufyan ats-Tsauri, dia berkata, “Aku pernah mendengar dari adh-Dhahhak, bahwa dia berkata, ‘Siapa yang menziarahi suatu kuburan pada hari Sabtu sebelum matahari terbit, maka mayat penghuni kubur itu mengetahui ziarahnya.’

Ada seseorang bertanya, ‘Bagaimana hal itu bisa terjadi?’

Dia menjawab, ‘Karena keistimewaan hari Jum’at.’”

Dari Abut-Tayyah, dia berkata, “Mutharrif pergi pada pagi-pagi buta, yang saat itu adalah hari Jum’at, sambil membawa cemetinya, yang pada suatu malam ujung cemeti itu mengeluarkan sinar. Dia tiba di areal kuburan sambil tetap menunggang kudanya. Dia melihat orang-orang yang dikubur duduk di atas kuburannya masing-masing. Mereka berkata, ‘Ini adalah Muharrif yang datang pada hari Jum’at.’

Mutharrif berkata, ‘Aku bertanya kepada mereka, ‘Apakah kamu sekalian juga mengenal hari Jum’at?’

Mereka menjawab, ‘Ya. Kami juga bisa mendengar apa yang dikatakan burung pada hari itu.’

‘Apa yang mereka katakan?’ tanyanya.

Mereka menjawab, ‘Mereka berkata, ‘Salam, salam.’


Leave a Reply

Archives

Categories