Category Archives: Sharing Islami

  • 0
Artikel tentang Islam

Artikel tentang Islam menjadi sorotan utama Amerika

Artikel tentang Islam

Artikel tentang Islam

zhorvans.net – Kurang lebih baru satu minggu yang lalu saya membuat blog berbasis blogspot tentang Artikel-artikel Islami yang berbahasa Indonesia dan baru mempunyai 45 artikel di dalamnya, namun setelah melihat review statistik pengunjung yang telah mampir di blog tersebut kebanyakan dari negara Amerika.

Mungkinkah dunia Islam saat ini sudah menjadi sorotan utama negara tersebut? Atau mungkin karena negara-negara yang mayoritas muslim sering kali menjadi korban tabrak lari intervensi yang dilakukan oleh negara-negara barat terutama pandangan Islam terhadap intervensi kemanusiaan dalam keilmuan Islam.

Contohnya saja ketika ada berita mengenai eksekusi hukuman cambuk terhadap para pelanggar hukum syariat di Aceh, sampai mendapat sorotan dari media Barat. Media online asal Inggris dailymail.co.uk, menulis serta mempublikasikan foto-foto hukuman cambuk di halaman masjid Baiturrahman, Banda Aceh itu.

Dalam artikelnya, Daily Mail menjelaskan secara rinci ketika Nur Elita (20) pingsan usai dia menjalani eksekusi hukuman cambuk pada Senin, 28 Desember 2015 lalu. Media tersebut mejelaskan Nur dan teman prianya bernama Wahyudi Saputra (23) dapat hukuman karena dianggap berbuat mesum atau khalwat.

Menurut Walikota Banda Aceh, bahwa hukuman ini sebagai pelajaran dan apa yang diperbuat terpidana tidak perlu ditiru. “Saya harap hukuman cambuk ini yang terakhir dilakukan,” katanya.

Banda Aceh adalah satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan hukum syariat Islam. Hukum ini pertama kali diterapkan pada 2003 setelah Aceh mendapat status otonomi khusus dari Pemerintah Indonesia.

Apalagi saat ini telah marak berita mengenai teroris yang tidak bertanggung jawab, yang masih berkeliaran dengan bebas, maka saya fikir benarlah apa adanya, bahwa dunia Islam, terutama Indonesia yang berpenduduk muslim terbanyak di dunia akan menjadi perhatian dari negara barat.

Kembali ke blog saya tadi, saat ini sudah menjadi kegemaran saya dalam menulis artikel tentang Islami, sampai web zhorvans.net ini terabaikan begitu lama. Blog tersebut bertemakan I’adah – Repost Islami, yang sengaja saya rangkum untuk menyegarkan kembali pengetahuan tentang Islam dari berbagai sumber, agar saya senantiasa merenungkan pengetahuan tentang islam, gunanya sebagai nasehat untuk diri sendiri, karena dengan merenung kita akan mengenali diri sendiri.

Instropeksi dengan kesalahan-kesalahan kita itu sangat diperlukan, dengan kita mengoreksi apa yang menjadi kekurangan kita selama ini tentunya kita akan menjadi manusia yang lebih bijak dan sadar diri.

Sesungguhnya nasihat itu diperuntukkan bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, dan bagi kaum mukminin. Nasihat adalah perkara yang sangat agung bagi setiap muslim. Bahkan, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjadikannya sebagai pokok ajaran agama, ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Agama itu adalah nasihat.“ Kami berkata: “Kepada siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, dan para imam kaum Muslimin serta segenap kaum Muslimin.

Selamat nge-blog yah, junjung terus nilai-nilai agama Islam sebagai nasihat dan jangan dijadikan untuk kemudharatan. Semoga bermanfaat.


  • 0

Sholat Sunnah Rawatib

sholat rawatib - zhorvans

sholat rawatib

Tuntunan Shalat Sunnah Rawatib ini sengaja saya repost kembali, karena untuk mengingatkan saja karena Shalat Sunnah Rawatib itu adalah ibadah sunnah di dalam ibadah sholat yang paling utama yaitu sunnah rawatib. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa mengerjakannya dan tidak pernah sekalipun meninggalkannya dalam keadaan mukim (tidak bepergian jauh).

Sesungguhnya diantara hikmah dan rahmat Allah atas hambanya adalah disyariatkannya At-tathowwu’ (ibadah tambahan). Dan dijadikan pada ibadah wajib diiringi dengan adanya at-tathowwu’ dari jenis ibadah yang serupa. Hal itu dikarenakan untuk melengkapi kekurangan yang terdapat pada ibadah wajib.

Dan sesungguhnya at-tathowwu’ (ibadah sunnah) di dalam ibadah sholat yang paling utama adalah sunnah rawatib. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa mengerjakannya dan tidak pernah sekalipun meninggalkannya dalam keadaan mukim (tidak bepergian jauh).

Mengingat pentingnya ibadah ini, serta dikerjakannya secara berulang-ulang sebagaimana sholat fardhu, sehingga saya ingin menjelaskan sebagian dari hukum-hukum sholat rawatib secara ringkas:

1. Keutamaan Sholat Rawatib

Ummu Habibah radiyallahu ‘anha telah meriwayatkan sebuah hadits tentang keutamaan sholat sunnah rawatib, dia berkata: saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang sholat dua belas rakaat pada siang dan malam, maka akan dibangunkan baginya rumah di surga“. Ummu Habibah berkata: saya tidak pernah meninggalkan sholat sunnah rawatib semenjak mendengar hadits tersebut. ‘Anbasah berkata: Maka saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dari Ummu Habibah. ‘Amru bin Aus berkata: Saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dari ‘Ansabah. An-Nu’am bin Salim berkata: Saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dari ‘Amru bin Aus. (HR. Muslim no. 728).

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha telah meriwayatkan sebuah hadits tentang sholat sunnah rawatib sebelum (qobliyah) shubuh, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Dua rakaat sebelum shubuh lebih baik dari dunia dan seisinya“. Dalam riwayat yang lain, “Dua raka’at sebelum shubuh lebih aku cintai daripada dunia seisinya” (HR. Muslim no. 725)

Adapun sholat sunnah sebelum shubuh ini merupakan yang paling utama di antara sholat sunnah rawatib dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya baik ketika mukim (tidak berpegian) maupun dalam keadaan safar.

Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha telah meriwayatkan tentang keutamaan rawatib dzuhur, dia berkata: saya mendengar rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menjaga (sholat) empat rakaat sebelum dzuhur dan empat rakaat sesudahnya, Allah haramkan baginya api neraka“. (HR. Ahmad 6/325, Abu Dawud no. 1269, At-Tarmidzi no. 428, An-Nasa’i no. 1814, Ibnu Majah no. 1160).

2. Jumlah Sholat Sunnah Rawatib

Hadits Ummu Habibah di atas menjelaskan bahwa jumlah sholat rawatib ada 12 rakaat dan penjelasan hadits 12 rakaat ini diriwayatkan oleh At-Tarmidzi dan An-Nasa’i, dari ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan dua belas (12) rakaat pada sholat sunnah rawatib, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga, (yaitu): empat rakaat sebelum dzuhur, dan dua rakaat sesudahnya, dan dua rakaat sesudah maghrib, dan dua rakaat sesudah ‘isya, dan dua rakaat sebelum subuh“. (HR. At-Tarmidzi no. 414, An-Nasa’i no. 1794).

3. Surat yang Dibaca pada Sholat Rawatib Qobliyah Subuh

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada sholat sunnah sebelum subuh membaca surat Al Kaafirun (قل يا أيها الكافرون) dan surat Al Ikhlas (قل هو الله أحد).”  (HR. Muslim no. 726).

Dan dari Sa’id bin Yasar, bahwasannya Ibnu Abbas mengkhabarkan kepadanya: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada sholat sunnah sebelum subuh dirakaat pertamanya membaca: (قولوا آمنا بالله وما أنزل إلينا) (QS. Al-Baqarah: 136), dan dirakaat keduanya membaca: (آمنا بالله واشهد بأنا مسلمون) (QS. Ali Imron: 52). (HR. Muslim no. 727).

4. Surat yang Dibaca pada Sholat Rawatib Ba’diyah Maghrib

Dari Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anha, dia berkata: Saya sering mendengar Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau membaca surat pada sholat sunnah sesudah maghrib:” surat Al Kafirun (قل يا أيها الكافرون) dan surat Al Ikhlas (قل هو الله أحد). (HR. At-Tarmidzi no. 431, berkata Al-Albani: derajat hadits ini hasan shohih, Ibnu Majah no. 1166).

5. Apakah Sholat Rawatib 4 Rakaat Qobiyah Dzuhur Dikerjakan dengan Sekali Salam atau Dua Kali Salam?

As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkata: “Sunnah Rawatib terdapat di dalamnya salam, seseorang yang sholat rawatib empat rakaat maka dengan dua salam bukan satu salam, karena sesungguhnya nabi bersabda: “Sholat (sunnah) di waktu malam dan siang dikerjakan dua rakaat salam dua rakaat salam”. (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Al-Utsaimin 14/288)

6. Apakah Pada Sholat Ashar Terdapat Rawatib?

As-Syaikh Muammad bin Utsaimin rahimahullah berkata, “Tidak ada sunnah rawatib sebelum dan sesudah sholat ashar, namun disunnahkan sholat mutlak sebelum sholat ashar”. (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Al-Utsaimin 14/343).

7. Sholat Rawatib Qobliyah Jum’at

As-Syaikh Abdul ‘Azis bin Baz rahimahullah berkata: “Tidak ada sunnah rawatib sebelum sholat jum’at berdasarkan pendapat yang terkuat di antara dua pendapat ulama’. Akan tetapi disyari’atkan bagi kaum muslimin yang masuk masjid agar mengerjakan sholat beberapa rakaat semampunya” (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Bin Baz 12/386&387).

8. Sholat Rawatib Ba’diyah Jum’at

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian mengerjakan sholat jum’at, maka sholatlah sesudahnya empat rakaat“. (HR. Muslim no. 881).

As-Syaikh Bin Baz rahimahullah berkata, “Adapun sesudah sholat jum’at, maka terdapat sunnah rawatib sekurang-kurangnya dua rakaat dan maksimum empat rakaat” (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Bin Baz 13/387).

9. Sholat Rawatib Dalam Keadaan Safar

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Rasulullah shallallahu a’laihi wa sallam didalam safar senantiasa mengerjakan sholat sunnah rawatib sebelum shubuh dan sholat sunnah witir dikarenakan dua sholat sunnah ini merupakan yang paling utama di antara sholat sunnah, dan tidak ada riwayat bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan sholat sunnah selain keduanya”. (Zaadul Ma’ad 1/315).

As-Syaikh Bin Baz rahimahullah berkata: “Disyariatkan ketika safar meninggalkan sholat rawatib kecuali sholat witir dan rawatib sebelum subuh”. (Majmu’ Fatawa 11/390).

10. Tempat Mengerjakan Sholat Rawatib

Dari Ibnu Umar radiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Lakukanlah di rumah-rumah kalian dari sholat-sholat dan jangan jadikan rumah kalian bagai kuburan“. (HR. Bukhori no. 1187, Muslim no. 777).

As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkata: “Sudah seyogyanya bagi seseorang untuk mengerjakan sholat rawatib di rumahnya…. meskipun di Mekkah dan Madinah sekalipun maka lebih utama dikerjakan dirumah dari pada di masjid Al-Haram maupun masjid An-Nabawi; karena saat Nabi shallallahu a’alihi wasallam bersabda sementara beliau berada di Madinah….. Ironisnya manusia sekarang lebih mengutamakan melakukan sholat sunnah rawatib di masjidil haram, dan ini termasuk bagian dari kebodohan”. (Syarh Riyadhus Sholihin, 3/295).

11. Waktu Mengerjakan Sholat Rawatib

Ibnu Qudamah berkata: “Setiap sunnah rawatib qobliyah maka waktunya dimulai dari masuknya waktu sholat fardhu hingga sholat fardhu dikerjakan, dan sholat rawatib ba’diyah maka waktunya dimulai dari selesainya sholat fardhu hingga berakhirnya waktu sholat fardhu tersebut “. (Al-Mughni 2/544).

12. Mengganti (mengqodho’) Sholat Rawatib

Dari Anas radiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang lupa akan sholatnya maka sholatlah ketika dia ingat, tidak ada tebusan kecuali hal itu“. (HR. Bukhori no. 597, Muslim no. 680).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Dan hadits ini meliputi sholat fardhu, sholat malam, witir, dan sunnah rawatib”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, 23/90).

13. Mengqodho’ Sholat Rawatib Di Waktu yang Terlarang

Ibnu Qoyyim berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meng-qodho’ sholat ba’diyah dzuhur setelah ashar, dan terkadang melakukannya terus-menerus, karena apabila beliau melakukan amalan selalu melanggengkannya. Hukum mengqodho’ diwaktu-waktu terlarang bersifat umum bagi nabi dan umatnya, adapun dilakukan terus-menerus pada waktu terlarang merupakan kekhususan nabi”. (Zaadul Ma’ad  1/308).

14. Waktu Mengqodho’ Sholat Rawatib Sebelum Subuh

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang belum mengerjakan dua rakaat sebelum sholat subuh, maka sholatlah setelah matahari terbit“. (At-Tirmdzi 423, dan dishahihkan oleh Al-albani).

Dan dari Muhammad bin Ibrahim dari kakeknya Qois, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar rumah mendatangi sholat kemudian qomat ditegakkan dan sholat subuh dikerjakan hingga selesai, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpaling menghadap ma’mum, maka beliau mendapati saya sedang mengerjakan sholat, lalu bersabda: “Sebentar wahai Qois apakah ada sholat subuh dua kali?“. Maka saya berkata: Wahai rasulullah sungguh saya belum mengerjakan sholat sebelum subuh, Tasulullah bersabda: “Maka tidak mengapa“. (HR. At-Tirmidzi). Adapun pada Abu Dawud dengan lafadz: “Maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diam (terhadap yang dilakukan Qois)”. (HR. At-tirmidzi no. 422, Abu Dawud no. 1267, dan Al-Albani menshahihkannya).

As-Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang masuk masjid mendapatkan jama’ah sedang sholat subuh, maka sholatlah bersama mereka. Baginya dapat mengerjakan sholat dua rakaat sebelum subuh setelah selesai sholat subuh, tetapi yang lebih utama adalah mengakhirkan sampai matahari naik setinggi tombak” (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Muhammad bin Ibrahim 2/259 dan 260).

15. Jika Sholat Subuh Bersama Jama’ah Terlewatkan, Apakah Mengerjakan Sholat Rawatib Terlebih Dahulu atau Sholat Subuh?

As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkata: “Sholat rawatib didahulukan atas sholat fardhu (subuh), karena sholat rawatib qobliyah subuh itu sebelum sholat subuh, meskipun orang-orang telah keluar selesai sholat berjama’ah dari masjid” (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsatimin 14/298).

16. Pengurutan Ketika Mengqodho’

As-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Apabila didalam sholat itu terdapat rawatib qobliyah dan ba’diyah, dan sholat rawatib qobliyahnya terlewatkan, maka yang dikerjakan lebih dahulu adalah ba’diyah kemudian qobliyah, contoh: Seseorang masuk masjid yang belum mengerjakan sholat rawatib qobliyah mendapati imam sedang mengerjakan sholat dzuhur, maka apabila sholat dzuhur telah selesai, yang pertamakali dikerjakan adalah sholat rawatib ba’diyah dua rakaat, kemudian empat rakaat qobliyah”. (Syarh Riyadhus Sholihin, 3/283).

17. Mengqodho’ Sholat Rawatib yang Banyak Terlewatkan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Diperbolehkan mengqodho’ sholat rawatib dan selainnya, karena merupakan sholat sunnah yang sangat dianjurkan (muakkadah)… kemudian jika sholat yang terlewatkan sangat banyak, maka yang utama adalah mencukupkan diri mengerjakan yang wajib (fardhu), karena mendahulukan untuk menghilangkan dosa adalah perkara yang utama, sebagaimana “Ketika Rasulullah mengerjakan empat sholat fardhu yang tertinggal pada perang Khondaq, beliau mengqodho’nya secara berturut-turut”. Dan tidak ada riwayat bahwasannya Rasulullah mengerjakan sholat rawatib diantara sholat-sholat fardhu tersebut.…. Dan jika hanya satu atau dua sholat yang terlewatkan, maka yang utama adalah mengerjakan semuanya sebagaimana perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada saat sholat subuh terlewatkan, maka beliau mengqodho’nya bersama sholat rawatib”. (Syarh Al-‘Umdah, hal. 238).

18. Menggabungkan Sholat-sholat Rawatib, Tahiyatul Masjid, dan Sunnah Wudhu’

As-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata: “Apabila seseorang masuk masjid diwaktu sholat rawatib, maka ia bisa mengerjakan sholat dua rakaat dengan niat sholat rawatib dan tahiyatul masjid, dengan demikian tertunailah dengan mendapatkan keutamaan keduanya. Dan demikian juga sholat sunnah wudhu’ bisa digabungkan dengan keduanya (sholat rawatib dan tahiyatul masjid), atau digabungkan dengan salah satu dari keduanya”. (Al-Qawaid Wal-Ushul Al-Jami’ah, hal. 75).

19. Menggabungkan Sholat Sebelum Subuh dan Sholat Duha Pada Waktu Dhuha

As-Syaikh Muhammad Bin Utsaimin rahimahullah berkata: “Seseorang yang sholat qobliyah subuhnya terlewatkan sampai matahari terbit, dan waktu sholat dhuha tiba. Maka pada keadaan ini, sholat rawatib subuh tidak terhitung sebagai sholat dhuha, dan sholat dhuha juga tidak terhitung sebagai sholat rawatib subuh, dan tidak boleh juga menggabungkan keduanya dalam satu niat. Karena sholat dhuha itu tersendiri dan sholat rawatib subuh pun juga demikian, sehingga tidaklah salah satu dari keduanya terhitung (dianggap) sebagai yang lainnya. (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, 20/13).

20. Menggabungkan Sholat Rawatib dengan Sholat Istikharah

Dari Jabir bin Abdullah radiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kami sholat istikhorah ketika menghadapi permasalahan sebagaimana mengajarkan kami surat-surat dari Al-Qur’an”, kemudian beliau bersabda: “Apabila seseorang dari kalian mendapatkan permasalahan, maka sholatlah dua rakaat dari selain sholat fardhu…” (HR. Bukhori no. 1166).

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Jika seseorang berniat sholat rawatib tertentu digabungkan dengan sholat istikhorah maka terhitung sebagai pahala (boleh), tetapi berbeda jika tidak diniatkan”. (Fathul Bari 11/189).

21. Sholat Rawatib Ketika Iqomah Sholat Fardhu Telah Dikumandangkan

Dari Abu Huroiroh radiyallahu ‘anhu, dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila iqomah sholat telah ditegakkan maka tidak ada sholat kecuali sholat fardhu“. (HR. Muslim bi As-syarh An-Nawawi 5/222).

An-Nawawi berkata: “Hadits ini terdapat larangan yang jelas dari mengerjakan sholat sunnah setelah iqomah sholat dikumandangkan sekalipun sholat rawatib seperti rawatib subuh, dzuhur, ashar dan selainnya” (Al-Majmu’ 3/378).

22. Memutus Sholat Rawatib Ketika Sholat Fardhu ditegakkan

As-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Apabila sholat telah ditegakkan dan ada sebagian jama’ah sedang melaksanakan sholat tahiyatul masjid atau sholat rawatib, maka disyari’atkan baginya untuk memutus sholatnya dan mempersiapkan diri untuk melaksanakan sholat fardhu, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apabila iqomah sholat telah ditegakkan maka tidak ada sholat kecuali sholat fardhu..“, akan tetapi seandainya sholat telah ditegakkan dan seseorang sedang berada pada posisi rukuk dirakaat yang kedua, maka tidak ada halangan bagi dia untuk menyelesaikan sholatnya. Karena sholatnya segera berakhir pada saat sholat fardhu baru terlaksana kurang dari satu rakaat”. (Majmu’ Fatawa 11/392 dan 393).

23. Apabila Mengetahui Sholat Fardhu Akan Segera Ditegakkan, Apakah Disyari’atkan Mengerjakan Sholat Rawatib?

As-Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sudah seharusnya (mengenai hal ini) dikatakan: “Sesungguhnya tidak dianjurkan mengerjakan sholat rawatib diatas keyakinan yang kuat bahwasannya sholat fardhu akan terlewatkan dengan mengerjakannya. Bahkan meninggalkannya (sholat rawatib) karena mengetahui akan ditegakkan sholat bersama imam dan menjawab adzan (iqomah) adalah perkara yang disyari’atkan. Karena menjaga sholat fardhu dengan waktu-waktunya lebih utama daripada sholat sunnah rawatib yang bisa dimungkinkan untuk diqodho’”. (Syarh Al-‘Umdah, hal. 609).

24. Mengangkat Kedua Tangan Untuk Berdo’a Setelah Menunaikan Sholat Rawatib

As-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Sholat Rawatib: Saya tidak mengetahui adanya larangan dari mengangkat kedua tangan setelah mengerjakannya untuk berdo’a, dikarenakan beramal dengan keumuman dalil (akan disyari’atkan mengangkat tangan ketika berdo’a). Akan tetapi lebih utama untuk tidak melakukannya terus-menerus dalam hal itu (mengangkat tangan), karena tidaklah ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan demikian, seandainya beliau melakukannya setiap selesai sholat rawatib pasti akan ada riwayat yang dinisbahkan kepada beliau. Padahal para sahabat meriwayatkan seluruh perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan rasulullah baik ketika safar maupun tidak. Bahkan seluruh kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat radiyallahu ‘anhum tersampaikan”. (Arkanul Islam, hal. 171).

25. Kapan Sholat Rawatib Ketika Sholat Fardhu DiJama’?

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Sholat rawatib dikerjakan setelah kedua sholat fardhu dijama’ dan tidak boleh dilakukan di antara keduanya. Dan demikian juga sholat rawatib qobliyah dzuhur dikerjakan sebelum kedua sholat fardhu dijama’”. (Shahih Muslim Bi Syarh An-Nawawi, 9/31).

26. Apakah Mengerjakan Sholat Rawatib Atau Mendengarkan Nasihat?

Dewan Tetap untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa Saudi: “Disyariatkan bagi kaum muslimin jika mendapatkan nasihat (kultum) setelah sholat fardhu hendaknya mendengarkannya, kemudian setelahnya ia mengerjakan sholat rawatib seperti ba’diyah dzuhur, maghbrib dan ‘isya” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah LilBuhuts Al-‘Alamiyah Wal-Ifta’, 7/234).

27. Mendahulukan Menyempurnakan Dzikir-dzikir setelah Sholat Fardhu Sebelum Menunaikan Sholat Rawatib

As-Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah ditanya: “Apabila saya mengerjakan sholat jenazah setelah maghrib, apakah saya langsung mengerjakan sholat rawatib setelah selesai sholat jenazah ataukah menyempurnakan dzikir-dzikir kemudian sholat rawatib?

Jawaban beliau rahimahullah: “Yang lebih utama adalah duduk untuk menyempurnakan dzikir-dzikir kemudian menunaikan sholat rawatib. Maka perkara ini disyariatkan baik ada atau tidaknya sholat jenazah. Maka dzikir-dzikir yang ada setelah sholat fardhu merupakan sunnah yang selayaknya untuk dijaga dan tidak sepantasnya ditinggalkan. Maka jika anda memutus dzikir tersebut karena menunaikan sholat jenazah, maka setelah itu hendaknya menyempurnakan dzikirnya ditempat anda berada, kemudian mengerjakan sholat rawatib yaitu sholat ba’diyah. Hal ini mencakup rawatib ba’diyah dzuhur, maghrib maupun ‘isya dengan mengakhirkan sholat rawatib setelah berdzikir”. (Al-Qoul Al-Mubin fii Ma’rifati Ma Yahummu Al-Mushollin, hal. 471).

28. Tersibukkan Dengan Memuliakan Tamu Dari Meninggalkan Sholat Rawatib

As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkata: “Pada dasarnya seseorang terkadang mengerjakan amal yang kurang afdhol (utama) kemudian melakukan yang lebih afdhol (yang semestinya didahulukan) dengan adanya sebab. Maka seandainya seseorang tersibukkan dengan memuliakan tamu di saat adanya sholat rawatib, maka memuliakan tamu didahulukan daripada mengerjakan sholat rawatib”. (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin 16/176).

29. Sholatnya Seorang Pekerja Setelah Sholat Fardhu dengan Rawatib Maupun Sholat Sunnah lainnya

As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkata: “Adapun sholat sunnah setelah sholat fardhu yang bukan rawatib maka tidak boleh. Karena waktu yang digunakan saat itu merupakan bagian dari waktu kerja semisal aqad menyewa dan pekerjaan lain. Adapun melakukan sholat rawatib (ba’da sholat fardhu), maka tidak mengapa. Karena itu merupakan hal yang biasa dilakukan dan masih dimaklumi (dibolehkan) oleh atasannya”.

30. Apakah Meninggalkan Sholat Rawatib Termasuk Bentuk Kefasikan?

As-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Perkataan sebagian ulama’: (Sesungguhnya meninggalkan sholat rawatib termasuk fasiq), merupakan perkataan yang kurang baik, bahkan tidak benar. Karena sholat rawatib itu adalah nafilah (sunnah). Maka barangsiapa yang menjaga sholat fardhu dan meninggalkan maksiat tidaklah dikatakan fasik bahkan dia adalah seorang mukmin yang baik lagi adil. Dan demikian juga sebagian perkataan fuqoha’: (Sesungguhnya menjaga sholat rawatib merupakan bagian dari syarat adil dalam persaksian), maka ini adalah perkataan yang lemah. Karena setiap orang yang menjaga sholat fardhu dan meninggalkan maksiat maka ia adalah orang yang adil lagi tsiqoh. Akan tetapi dari sifat seorang mukmin yang sempurna selayaknya bersegera (bersemangat) untuk mengerjakan sholat rawatib dan perkara-perkara baik lainnya yang sangat banyak dan berlomba-lomba untuk mengerjakannya”. (Majmu’ Fatawa 11/382).

(Yang dimaksud adalah artikel tersebut: http://fdawj.atspace.org/awwb/th2/14.htm (pen.))

Faedah:
Ibmu Qoyyim rahimahullah berkata: “Terdapat kumpulan sholat-sholat dari tuntunan nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sehari semalam sebanyak 40 rakaat, yaitu dengan menjaga 17 rakaat dari sholat fardhu, 10 rakaat atau 12 rakaat dari sholat rawatib, 11 rakaat atau 13 rakaat sholat malam, maka keseluruhannya adalah 40 rakaat. Adapun tambahan sholat selain yang tersebutkan bukanlah sholat rawatib….. maka sudah seharusnyalah bagi seorang hamba untuk senantiasa menegakkan terus-menerus tuntunan ini selamanya hingga menjumpai ajal (maut). Sehingga adakah yang lebih cepat terkabulkannya do’a dan tersegeranya dibukakan pintu bagi orang yang mengetuk sehari semalam sebanyak 40 kali? Allah-lah tempat meminta pertolongan”. (Zadul Ma’ad 1/327).

Demikian ringkasan serta perkara Sholat Rawatib yang saya posting kali ini, semoga bermanfaat bagi kita semua. Sholawat serta salam kepada nabi kita muhammad shallalllahu ‘alaihi wasallam dan keluarganya serta para sahabatnya. Amiin

sumber: www.muslim.or.id


  • 0

Apa kabar ibu?

Category : Info , Journey , Real , Renungan , Share , Sharing Islami

1433220666166

Berkunjung ke rumah ibu dan nenek tercinta..

“Apa kabar?”
Lama ga ketemu, gimana kabarnya?
Apa kabar si kakak ?
Bagaimana kabarmu..

Disaat aku terlalu sibuk dengan mengajukan pertanya-pertanyaan apa kabar kepada orang lain, aku lupa ada mereka yang selalu lupa kutanyakan kabarnya tetapi selalu ingat menanyakan kabarku.

Ini tentang mereka, orang-orang yang selalu mendukungku dengan doa. Ini tentang mereka yang memberiku kasih sayang dengan perhatian. Ini tentang mereka… Ayah, Ibu dan Kakak-adikku….

Tetapi pertanyaan apa kabar terutama untukmu (bu) aku sudah lama tidak menanyakannya…..
.
.
.
Ibu apa kabar?
Maaf untuk beberapa waktu lupa menanyakan kabarmu melalui (doa)
Maaf untuk beberapa waktu tidak mengunjungimu…..
…..
Dan hari ini Allah dengan baik hatinya, selalu mengingatkan untuk mengingatmu,  mengingatkan agar selalu menjadi hamba yang soleh, menjadi  anakmu yang soleh bu, mengingatkan bahwa suatu saat aku akan bertemu mu bu di taman-taman surga-Nya, insya Allah dengan izin Allah tentunya.

Apa kabar bu, aku rindu!

ziarah

Menurut Ibnu abdil Barr, diriwayatkan dari Nabi Saw, bahwa beliau bersabda, “Tidaklah ada di antara orang Muslim yang lewat di dekat kubur saudaranya, yang dikenalnya selagi di dunia, lalu dia mengucapkan salam kepadanya, melainkan Allah mengembalikan ruhnya kepadanya hingga dia membalas salamnya itu.”

Ini merupakan nash yang menunjukkan bahwa orang yang sudah meninggal dunia dan terbujur di dalam kuburnya, bisa mengetahuinya dan juga membalasa salamnya.

Di dalam As-Shahihain diriwayatkan dari Rasulullah Saw dari beberapa jalan, bahwa beliau memerintahkan untuk mengumpulkan para korban perang Badr (dari kalangan musyrikin Quraisy) dan melemparkannya ke dalam sebuah lubang bekas sumur. Kemudian beliau mendekat dan berdiri di dekat mereka sambil memanggil nama mereka satu persatu, “Hai Fulan bin Fulan, hai Fulan bin Fulan, apakah kalian mendapatkan apa yang janjikan oleh Rabb kalian adalah benar? Sesungguhnya aku mendapatkan apa yang janjikan Rabb-ku kepadaku adalah benar.

Umar bin Khaththab ra bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin engkau berbicara dengan orang-orang yang sudah menjadi  bangkai?”

Beliau menjawab, “Demi Yang mengutusku dengan kebenaran, mereka lebih mampu mendengar apa yang kukatakan daripada kalian, hanya saja mereka tidak mampu menjawab.”

Diriwayatkan dari beliau, bahwa orang yang meninggal dunia dapat mendengar suara sandal orang-orang yang mengiringinya, saat mereka meninggalkan kuburnya.

Nabi Saw mensyariatkan kepada umatnya, agar mereka mengucapkan salam kepada ahli kubur, seperti salam yang mereka ucapkan kepada lawan bicara, dengan lafazh sebagai berikut, “Salam sejahtera atas kalian, tempat tinggal orang-orang Mukmin.” Ucapan semacam ini layak disampaikan kepada orang yang dapat mendengar dan memikirkannya. Jika tidak, maka ucapan semacam ini hanya ditujukan kepada orang yang tidak ada di tempat atau benda mati.

Orang-orang salaf telah menyepakati hal ini dan banyak atsar yang diriwayatkan dari mereka, bahwa orang yang meninggal dunia dapat mengetahui ziarah orang yang masih hidup di atas kuburnya, dan dia merasa gembira karena kedatangannya itu.

Abu Bakar bin Abdullah bin Muhammad bin Ubaid bin Abud-Dunya mengatakan di dalam Kitabul Qubur, tentang orang yang meninggal dunia dan mengetahui kedatangan orang yang masih hidup, dari Aisyah ra, dia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Tidaklah seseorang menziarahi kubur saudaranya dan duduk di sisinya, melainkan ia mendengarnya dan menjawab perkataannya, hingga dia bangkit.’

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata, “Apabila seseorang melewati kuburan saudara yang dikenalnya lalu dia mengucapkan salam kepadanya, maka dia membalas salamnya dan mengenalinya. Jika dia melewati kuburan orang yang tidak dikenalnya lalu mengucapkan salam, maka dia hanya membalas salamnya.”

Dari seseorang dari kerabat Ashim al-Jahdari, dia berkata, “Aku bermimpi bertemu dengan al-Jahdari, enam hari setelah dia meninggal dunia. Dalam mimpi itu aku bertanya kepadanya, “Bukankah engkau sudah meninggal dunia?”

“Benar,” jawabnya.

“Di mana engkau berada saat ini?” aku bertanya.

Dia menjawab, “Demi Allah, aku berada di sebuah taman dari taman-taman surga. Aku bersama beberapa rekanku berkumpul pada setiap malam Jum’at dan pagi harinya lalu kami sama-sama menghadap Abu Bakar bin Abdullah al-Mazny, untuk mencari kabar tentang kalian.”

Aku bertanya lagi, “Apakah itu jasad kalian atau ruh kalian?”

“Sama sekali tidak. Jasad telah usang. Hanya ruh-ruh yang saling bertemu,” jawabnya.

“Apakah kalian mengetahui kedatangan kami yang menziarahi kalian?” tanyaku.

“Ya, kami mengetahuinya pada Jum’at petang dan pada hari Sabtu hingga terbit matahari,” jawabnya.

Aku bertanya lagi, “Mengapa yang demikian itu tidak berlaku bagi semua hari?”

Dia menjawab, “Mengingat kelebihan hari Jum’at dan keagungannya.”

Dari Hasan al-Qashab, dia berkata, “Setiap Sabtu pagi aku pergi bersama Muhammad bin Wasi’ ke kuburan. Kami mengucapkan salam kepada orang-orang yang dikubur di sana dan juga mendoakan mereka. Setelah itu kami kembali. Suatu hari kukatakan kepada Muhammad bin Wasi’, “Bagaimana jika jadwal ziarah kita ubah menjadi hari Senin?”

Dia menjawab, “Aku pernah mendengar riwayat bahwa orang-orang yang meninggal dunia dapat mengetahui para peziarahnya pada hari Jum’at dan sehari sebelum dan sesudahnya.”

Dari Sufyan ats-Tsauri, dia berkata, “Aku pernah mendengar dari adh-Dhahhak, bahwa dia berkata, ‘Siapa yang menziarahi suatu kuburan pada hari Sabtu sebelum matahari terbit, maka mayat penghuni kubur itu mengetahui ziarahnya.’

Ada seseorang bertanya, ‘Bagaimana hal itu bisa terjadi?’

Dia menjawab, ‘Karena keistimewaan hari Jum’at.’”

Dari Abut-Tayyah, dia berkata, “Mutharrif pergi pada pagi-pagi buta, yang saat itu adalah hari Jum’at, sambil membawa cemetinya, yang pada suatu malam ujung cemeti itu mengeluarkan sinar. Dia tiba di areal kuburan sambil tetap menunggang kudanya. Dia melihat orang-orang yang dikubur duduk di atas kuburannya masing-masing. Mereka berkata, ‘Ini adalah Muharrif yang datang pada hari Jum’at.’

Mutharrif berkata, ‘Aku bertanya kepada mereka, ‘Apakah kamu sekalian juga mengenal hari Jum’at?’

Mereka menjawab, ‘Ya. Kami juga bisa mendengar apa yang dikatakan burung pada hari itu.’

‘Apa yang mereka katakan?’ tanyanya.

Mereka menjawab, ‘Mereka berkata, ‘Salam, salam.’


  • 0

Selalu Bersyukur

Selalu Bersyukurzhorvans.net – Selalu Bersyukur

Salah satu tokoh motivasi pernah berkata, baik secara live maupun via tulisan … Kalimatnya kurang lebih begini, “Burung bahagia jadi burung, pohon bahagia jadi pohoon … tapi mengapa banyak manusia, tidak bahagia jadi manusia” …

Bagi saya, kalimat guru saya itu sangat meneduhkan … Dalam sekali maknanya … Iya ya … Mengapa saya tidak bahagia jadi manusia? … Kalimat itu menyadarkan saya … Saat saya sedang dikepung rasa tidak bahagia …

Tapi, ada beberapa orang berkomentar, dengan cara berbeda … Mereka mempertanyakan, “darimana tahu burung bahagia jadi burung, pohon bahagia jadi pohon? … ngaco tuh … hanya asumsi yang tidak masuk akal …”

Begini … Kalimat sebijaksana apapun, letak kebijaksanaannya, bukan pada kalimatnya … Tapi terletak pada si pembacanya … Sama dengan ayat suci dalam kitab suci … Kesucian sebenarnya, bukan terletak pada ayatnya, bukan pada kitabnya, tapi terletak pada si pembaca ayatnya ..

Bagi yang pikirannya rumit, kalimat sebijaksana apapun, ayat suci seindah apapun, tidak akan mampu mendamaikan hati mereka …

Namun, bagi orang yang sudah tercerahkan, hanya sekedar kicauan burung pun, hanya pepohonan rindang pun, sudah cukup untuk memicu hadirnya kebahagiaan dan merasakan kehadiran Tuhan …

Di sini admin umpamakan selalu bersyukur ini dalam sebuah cerita. Alkisah ada seekor gagak yang tinggal di hutan merasa sangat puas dengan hidupnya. Pada suatu hari dia melihat seekor Angsa dengan bulu yang sangat putih, lalu dia berpikir bahwa Angsa ini pasti burung yang paling bahagia di dunia.

Lalu di sampaikan pikirannya ini pada si Angsa. Jawab si Angsa, “Dulu aku juga berpikir akulah burung yang paling bahagia di dunia ini, sampai aku ketemu Betet yang punya bulu dua warna. Sekarang aku pikir Betetlah burung yang paling bahagia sedunia”

Lalu burung Gagak mendekati Betet dan si Betet menjawab, “Sebelumnya saya hidup dengan sangat bahagia sampai saya melihat burung Merak. Saya hanya punya bulu dgn 2 warna, tapi Merak punya bulu yg warna warni”

Gagakpun menemui Merak dan berkata, “Merak, kamu sangat cantik, setiap hari ribuan orang datang ingin melihatmu. Benar, kamu adalah burung yang paling bahagia sedunia”

Jawab Merak, “Saya dulu juga berpikir bahwa saya burung yang paling cantik dan bahagia dibumi ini. Justru karena kecantikanku ini saya jadi dikurung dikebun binatang.

Saya sudah perhatikan dgn seksama, dan saya menyadari bahwa hanya Burung Gagak yang tidak dimasukkan ke sangkar. Aku berpikir bahwa kalau saja aku jadi burung Gagak pasti bahagia dan bebas pergi kemanapun”

Itukah problem kita semua…?

Kita bandingkan diri kita dengan orang lain yang sebenarnya tidak perlu dan karenanya kita menjadi sedih. Kita kurang menghargai apa yang sudah Alloh berikan.

Belajar bahagia adalah menghargai apa yang kita punya, bukan menyesali yang kita tdk punya. Selalu akan ada orang yang punya lebih banyak atau lebih sedikit dari kita.

So, berhentilah membandingkan diri dengan orang lain dan mulailah selalu bersyukur buat apa yang ada dalam hidup kita. Disitulah kebahagiaan sesungguhnya.


  • 0

Qurban Tidak Harus Menunggu Kaya

Category : Info , Real , Renungan , Share , Sharing Islami

zhorvans.net – Qurban tidak harus menunggu kaya

Dari Raehanul Bahraen

Teguran , Saya menangis dan malu baca cerita ini….

Renungan siang hari…

Seorang pedagang hewan qurban berkisah tentang pengalamannya: Seorang ibu datang memperhatikan dagangan saya. Dilihat dari penampilannya sepertinya tidak akan mampu membeli. Namun tetap saya coba hampiri dan menawarkan kepadanya, “Silahkan bu…”, lantas ibu itu menunjuk salah satu kambing termurah sambil bertanya,”kalau yg itu brp Pak?”.

“Yang itu 700 ribu bu,” jawab saya. “Harga pasnya berapa?”, Tanya kembali si Ibuu. “600 deh, harga segitu untung saya kecil, tapi biarlah…… . “Tapi, uang saya hanya 500 ribu, boleh pak?”, pintanya. Waduh, saya bingung, karena itu harga modalnya, akhirnya saya berembug dengan teman sampai akhirnya diputuskan diberikan saja dgn harga itu kepada ibu tersebut.

Sayapun mengantar hewan qurban tersebut sampai kerumahnya, begitu tiba dirumahnya, “Astaghfirullah……, Allahu Akbar…, terasa menggigil seluruh badan karena melihat keadaan rumah ibu itu.

Rupanya ibu itu hanya tinggal bertiga, dengan ibunya dan puteranya dirumah gubug berlantai tanah tersebut. Saya tidak melihat tempat tidur kasur, kursi ruang tamu, apalagi perabot mewah atau barang-barang elektronik,. Yang terlihat hanya dipan kayu beralaskan tikar dan bantal lusuh.

Diatas dipan, tertidur seorang nenek tua kurus. “Mak…..bangun mak, nih lihat saya bawa apa?”, kata ibu itu pada nenek yg sedang rebahan sampai akhirnya terbangun. “Mak, saya sudah belikan emak kambing buat qurban, nanti kita antar ke Masjid ya mak….”, kata ibu itu dengan penuh kegembiraan.

Si nenek sangat terkaget meski nampak bahagia, sambil mengelus-elus kambing, nenek itu berucap, “Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga kalau emak mau berqurban”.

“Nih Pak, uangnya, maaf ya kalau saya nawarnya kemurahan, karena saya hanya tukang cuci di kampung sini, saya sengaja mengumpulkan uang untuk beli kambing yang akan diniatkan buat qurban atas nama ibu saya….”, kata ibu itu

Kaki ini bergetar, dada terasa sesak, sambil menahan tetes air mata, saya berdoa , “Ya Allah…, Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hamba-Mu yang pasti lebih mulia ini, seorang yang miskin harta namun kekayaan Imannya begitu luar biasa”.

“Pak, ini ongkos kendaraannya…”, panggil ibu itu,”sudah bu, biar ongkos kendaraanya saya yang bayar’, kata saya.

Saya cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan dengan hambaNya yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya…….

Untuk mulia ternyata tidak perlu harta berlimpah, jabatan tinggi apalagi kekuasaan, kita bisa belajar keikhlasan dari ibu itu untuk menggapai kemuliaan hidup. Berapa banyak diantara kita yang diberi kecukupan penghasilan, namun masih saja ada kengganan untuk berkurban, padahal bisa jadi harga handphone, jam tangan, tas, ataupun aksesoris yg menempel di tubuh kita harganya jauh lebih mahal dibandingkan seekor hewan qurban. Namun selalu kita sembunyi dibalik kata tidak mampu atau tidak dianggarkan.

Oleh : Ust. Aidil Heryan
(Semoga tahun ini kita semua bisa ber qurban, karena qurban tidak harus menunggu kaya )


  • 0

Aku adalah

Category : Renungan , Sharing Islami

zhorvans.net – BAGUS NIH BUAT RENUNGAN😇😇

Aku adalah

4:00 pagi kita bangun solat subuh, kemudian kita bersiap2 utk ke tempat kerja, sampai kantor pukul 7:00 pagi, hari masih gelap.

Mungkin kita anggap hari ini akan hujan, jadi abaikan. Masuk kantor, bekerja dan kita lihat pukul 12:00 siang, sudah waktunya makan siang, tapi keadaan masih tetap gelap.

Keluar pintu kantor, suasana masih gelap, hitam pekat seperti malam..mungkin masih bisa dianggap hari ini akan hujan lagi. Jadi abaikan saja.

Tapi kalo jam 14:00 pm pun hari masih gelap.. pertanda apa itu?..keesokkan pun sama, nonton tv semua orang kalang kabut menceritakan bahawa dunia ini sudah tidak ada lagi siangnya..dan begitu juga dengan lusa..masih tidak ada lagi matahari..

Tetapi pada hari keempat kita bangun pagi, kita dapat melihat matahari, tetapi jangan terkejut karena matahari telah terbit dari sebelah barat..
Kehebatan ahli dunia akan mengatakan itu fenomena alam, tapi sadarkah, itulah pertanda besar yang paling awal sebelum tibanya hari kiamat!!
Maka telah tertutuplah pintu taubat..

Saat itu, kita akan lihat satu fenomena luar biasa di mana golongan kaya akan keluarkan semua harta utk diinfakkan, golongan yang tidak pernah baca quran, 24 jam baca quran, golongan yang tak pernah solat jemaah akan berlari2 menunaikan solat secara berjemaah..tapi sayangnya semuanya sudah tidak berguna lagi..

Bismillahirrahmanirrahim.
😒 Kenapa kita tidur saat Allah memanggil? Tapi kita sanggup menahan kantuk saat menonton film selama 3 jam?

😣 Kenapa kita bosan saat baca al-qur’an? Melainkan kita lebih rela membaca timeline twitter, wall facebook, novel atau buku lain?

😔 Kenapa kita senang sekali mengabaikan pesan dari Allah? Tpi kita sanggup memforward pesan yang aneh-aneh?

😢 Kenapa masjid semakin kecil? Tapi bar dan club? semakin besar?

😖 Kenapa kita lebih sangat senang menyembah ARTIS? Tapi sangat susah untuk menemui ALLAH? Pikirkan itu
😏 Apakah anda akan menforward pesan ini?

😞 Apakah anda akan mengabaikan pesan ini karena takut ditertawakan dengan kawan yang lain?

1. Biarkan didalam whatsapp, line, bbm dsb anda tanpa bermanfaat untuk org lain.

2. Anda sebarkan pada semua kenalan anda. . Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang menyampaikan 1(satu) ilmu saja dan ada orang yg mengamalkan, maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala 😊
-renungkanlah..
Bacalah
KIAMAT menurut Agama Islam di tandai dgn:
– Kemunculan Imam Mahdi
– Kemunculan Dajjal
– Turunnya Nabi Isa (AS)
– Kemunculan Yakjuj dan Makjuj
– Terbitnya matahari dari Barat ke Timur
– Pintu pengampunan akan ditutup
– Dab’bat al-Ard akan keluar dari tanah & akan menandai muslim yang sebenar2nya
– Kabut selama 40 Hari akan mematikan semua orang beriman sejati shg mereka tidak perlu mengalami tanda2 kiamat lainnya
– Sebuah kebakaran besar akan menyebabkan kerusakan
– Pemusnahan/runtuhnya Kabah
– Tulisan dalam Al-Quran akan lenyap
– Sangkakala akan ditiup pertama kalinya membuat semua makhluk hidup merasa bimbang dan ketakutan
– Tiupan sangkakala yang kedua kalinya akan membuat semua makhluk hidup mati dan yg ketiga yang membuat setiap makhluk hidup bangkit kembali

Nabi MUHAMMAD SAW telah bersabda:
“Barang siapa yg mengingatkan ini kepada orang lain, akan Ku buatkan tempat di syurga baginya pada hari penghakiman kelak”

Kita bisa kirim ribuan bbm mesra, promote, bc yang terlalu penting tapi bila kirim yang berkaitan dengan ibadah mesti berpikir 2x.

Allah berfirman : “jika engkau lebih mengejar duniawi daripada mengejar dekat denganKu maka Aku berikan, tapi Aku akan menjauhkan kalian dari syurgaKu”

Itulah yg dimaksud dajjal yg bermata satu: artinya hanya mmikirkan duniawi drpda akhirat. Kerugian meninggalkn solat:
Subuh:
Cahaya wajah akan pudar.
Zuhur:
Berkat pendapatan akan hilang.
Asar:
Kesehatan mulai terganggu.
Maghrib:
Pertolongan anak akan jauh di akhirat nanti.
Isya’:
Kedamaian dlm tidur sukar didapatkan.
Sebarkan dgn ikhlas. tiada paksaan dalam agama
Niatkan ibadah(sebarkan ilmu walau 1 ayat)

Nasihat Kubur: 🔊

1). Aku adalah tempat yg paling gelap di antara yg gelap, maka terangilah .. aku dengan TAHAJUD

2). Aku adalah tempat yang paling sempit, maka luaskanlah aku dengan ber SILATURAHIM..

3). Aku adalah tempat yang paling sepi maka ramaikanlah aku dengan perbanyak baca 📖 AL-QUR’AN.

4). Aku adalah tempatnya binatang2 🐍 yang menjijikan maka racunilah ia dengan Amal SEDEKAH,

5). Aku yg menyepitmu hingga hancur bilamana tidak Solat, bebaskan sempitan itu dengan SOLAT

6). Aku adalah tempat utk merendammu dg cairan yg sangat amat sakit, 😲 bebaskan rendaman itu dgn PUASA..

7). Aku adalah tempat Munkar & Nakir bertanya, maka Persiapkanlah jawapanmu dengan Perbanyak mengucapkan Kalimah “LAILAHAILALLAH”

Kirim 📩 ini semampumu dan seikhlasmu kepada sesama Muslim, sampaikanlah walau hanya pada 1 org..
Karena, saat kamu membawa Al-Qur’an, setan biasa2 saja.
Saat kamu membukanya, syaitan mulai curiga.
Saat kamu membacanya, ia gelisah.
Saat kamu mmahaminya, ia kejang2.
Saat kamu mengamalkan Al-Qur’an dlm kehidupan shari-hari, ia stroke.
Trus n trus baca & amalkan agar syaitan stroke dan mati.
Ketika anda ingin menyebarkan .. ini, lagi2 syaitan pun mencegahnya.

Syaitan berbisik;
“Sudahlaaaaaah tak usah bersusah payah di SEBARKAN, tak penting , BUANG WAKTU saja, tak mungkin akan di baca “…

Sekecil apapun amal ibadah, Allah SWT menghargainya puluhan kali ganda ..

Ø Ada 3 Hal dlm hidup yg tidak bisa kembali :
1. Waktu
2. Kata-kata
3. Kesempatan
K: Kiblat
A: Arah
A: aku
B: Bersujud hingga
A: akhir
H: Hayat

👍👍👍👍


  • 0

Diantara Hidup dan Mati

Category : Info , Renungan , Sharing Islami

Assalamu’alaikum wbkt

Diantara Hidup dan Mati

Sebelum kematian Alexander The Great, Dia telah mengarahkan Generalnya melakukan 3 perkara berikut:

Pertama …
Keranda mayatnya di usung oleh doktor2 pakar terhebat.

Kedua …
Semua hartanya (duit, emas, batu permata) di tebarkan di sepanjang jalan menuju tapak perkuburan.

Ketiganya …
Tangannya dibiarkan supaya terkulai dan terkeluar dari kerandanya.

Di tanyakan kenapa oleh salah seorang Generalnya, Alexander menjelaskan begini:

“ Aku mahu doktor2 terbaik mengusung keranda aku krn aku mahu mengingatkan manusia bhw di saat kematian, setinggi mana kepakaran doktor, dia tetap tidak akan boleh menghalang kematian.

Aku mahu jalan menuju ke kuburku di penuhi dgn harta kekayaan aku supaya semua org akan memahami segala harta kekayaan sudah tidak berguna dan tidak boleh di bawa mati.
Ia tetap akan terus berada di dunia.

Aku mahu tangan aku terlepas bebas supaya ia mengingatkan yg kita datang ke dunia dgn tangan kosong dan akan pergi juga dgn tangan kosong setelah sumber termahal kita hilang, iaitu “MASA”.

Kesimpulannya di sini …
tak kiralah betapa hebatnya kamu semasa hidupmu takkan mungkin kamu dapat menyelamatkan dirimu dari kematian..

Pada masa itu terputuslah segala2nya kecuali amal jariah dan warisan2 kebaikan yg kamu telah wakafkan kpd masyarakat dan keluarga kamu…

Mudah-mudahan bermanfaat…

Wassalamu’alaikum wbkt

Diantara Hidup dan Mati
Sourch: grup WA


  • 0

We Muslims are more Christian than the Christians themselves

Category : Info , Real , Renungan , Share , Sharing Islami

zhorvans.net – Yaa sempet merinding mendengar judul diatas seperti dikutip dari ceramahnya Dr. Zakir Naik di youtube yang mengatakan bahwa kami sebagai muslim lebih kristen dari pada orang kristen itu sendiri. Hal tersebut didasari atas:

We Muslims love And Follow Jesus more then Christians:
We Muslims are more Christian than the Christians themselves.
Prove:

Jesus said: Gospel of John chapter 14 verse 15
“If you love me, keep my commands.”
1)Bible say do Hijab we Muslim do.
2)Bible say Illegal sex is wrong we Muslim Also believe in that and there is a big punishment of illegal sex explained in surah noor chapter 24
3)Jesus said Last messenger will come who will speak about me we Muslims believe in that.
4)Jesus said God is one we believe in it (Mark 12:29)

We Muslims are more Christian than the Christians themselves

We Muslims are more Christian than the Christians themselves

Lebih lengkapnya simak video berikut ini:

Dari perdebatan diatas, ada yang beriman dan ada yang tidak, terserah anda dan kembali ke anda! Mengenai hal ini, perlu kita ketahui, hidayah atau petunjuk hanyalah milik Allah, bagaimana pun upaya kita untuk merubah seseorang, bagaimana pun kerja keras kita untuk menyadarkan seseorang, maka itu tidak ada artinya jika Allah tidak menghendaki hidayah kepadanya, orang tersebut tidak akan berubah sampai Allah memberikannya hidayah. Allah berfirman yang artinya “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al Qashash: 56).

Ibnu katsir mengatakan mengenai tafsir ayat ini, “Allah mengetahui siapa saja dari hambanya yang layak mendapatkan hidayah, dan siapa saja yang tidak pantas mendapatkannya”.

Dalam Lukas 17:5-6 Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan: “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.”

QS AL ANAM:14
Katakanlah: “Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak memberi makan?“ Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang musyrik“.

Satu hal yang ditegaskan dalam ceramah di atas adalah: “Jika anda ingin memahami suatu Agama, BACALAH KITABNYA, jangan melihat para pengikut agama itu!”

Simpel kan? Makanya We Muslims are more Christian than the Christians themselves, karena semua agama itu benar, dan bersumber dari Allah SWT, pencipta manusia dari awal sampai akhir zaman.


  • 0

Aku Pura-pura Rindu Ramadhan

Aku pura-pura rindu ramadhan - The joy and fun zhorvans.net
zhorvans.net – Aku Pura-pura Rindu Ramadhan
Sebuah tulisan yang sangat menyentuh dan membuat admin merenung sangat dalam tentang Ramadhan,. :’)
Ramadhan, ternyata selama ini kami cuma pura-pura merindukanmu.
Sejak dua bulan lalu ketika kami panjatkan doa kepada Allah untuk disampaikan kepadamu, kami selalu bilang kami begitu merindukanmu. Ketika itu pula, kami selalu bilang kami tak sabar lagi untuk berjumpa denganmu—takut rasanya, bila ternyata umur ini membuat kami tak punya kesempatan untuk kita saling menyapa, saling mengisi, saling menyemangati. Akhirnya sampai juga hari ini, bahkan sudah separuh Ramadhan kami jalani.
Benar sekali, sukacita kami menyambut kehadiranmu. Apa lagi yang kami tunggu? Maka petasan meledak dan berisik di sana-sini, masjid-masjid kembali hidup, kitab-kitab dibersihkan dari debu yang menyelimutinya entah sejak kapan—Ramadhan lalu barangkali, berbondong-bondong kami berangkat shalat taraweh meski berat sebab perut kami masih dalam keadaan kenyang keterlaluan, pukul tiga acara televisi sudah ramai dengan lawakan-lawakan yang tidak lucu, dan seperti biasa: lagu-lagu religi diperdengarkan di mana-mana.
Inikah juga yang kau harapkan wahai Ramadhan?
Tiap hari kami menghitung lembar-lembar kitab yang telah kami baca, kami tersenyum: sudah banyak, insyaallah targetan kami tercapai. Kami tak terlalu peduli apakah kitab yang bolak-balik kami baca itu kami mengerti atau tidak, apalagi mengamalkannya—kejauhan. Kami sudah sangat puas bila ada yang bertanya ‘sudah berapa lembar yang telah dibaca’ kami bisa menjawab: sudah khatam dua kali. Lalu mereka kagum. Bukankah itu surga?
Tapi itukah sambutan yang sungguh kau harapkan wahai Ramadhan?
Kami melihat agenda harian kami: Senin buka bersama dengan X, Selasa buka bersama dengan Y, Rabu buka bersama dengan Z sekaligus Sahur on The Road, Kamis.. Jumat.. begitu seterusnya. Begitulah cara kami merayakan kedatanganmu. Tarawih bisa dilewat karena sunnah, Shalat malam jangan ditanya, mana sanggup kami menunaikannya. Malam-malam kami habiskan dengan tidur dengan lelap karena lelah, jangan sampai kami kesiangan sahur apalagi ketinggalan acara sahur favorit. Nanti kami dibilang tidak gaul.
Shalat shubuh di Bulan Ramadhan bagi kami adalah ritual penting menuju alam mimpi. Ya, kami tidur lagi karena tidur di Bulan Ramadhan adalah ibadah.
Puasa kami tak pernah bolong barang sehari, sebagaimana lisan kami yang tak pernah lupa jadwal amalan gibahnya. Kami begitu kuat menahan lapar, dahaga, berahi, sebagaimana kami begitu kuat menahan harta yang ada di dompet kami—tak ada yang boleh menyentuhnya sebab akan kami gunakan untuk lebaran mahameriah kami. Sesekali kami ingat ucapan penyair itu: ‘kau akan menjadi milik hartamu jika kau menahannya, dan jika kau menafkahkannya maka harta itu menjadi milikmu.’ Tapi siapa peduli. Lebaran tetaplah lebaran, merayakannya dengan kesederhanaan tak boleh jadi pilihan.
Seperti itukah perlakuan yang ingin kau dapatkan wahai Ramadhan?
Kelak ketika Ramadhan berakhir, kami—dengan mengendarai mobil pribadi kami—akan berkeliling mengunjungi saudara dan kerabat, bermaaf-maafan atau sekadar mencicip kue. Kami tentu senang, bahagia, karena katanya kami menang.
Ah, Ramadhan.
Entahlah, kami tak mengerti: barangkali kami memang cuma pura-pura merindukanmu.
Aku Pura-pura Rindu Ramadhan
http://wahana-fiber.com/?Artikel:Kapal_Wisata_Murah 

  • 2

Makka Sagaipova dalam judul Hyo Tsha Woo Sa

Category : Info , Music , Sharing Islami

Makka Sagaipova
Makka Sagaipova

zhorvans.net – Makka Sagaipova dalam judul Hyo Tsha Woo Sa

Entah kenapa pas lagi jalan-jalan di Youtube liat lagu ini jadi keranjingan. Dari tampilan depan cover saya tertarik untuk melihatnya, dan setelah didengarkan ternyata lagunya sangat enak didengar.

Apa sih arti dan makna lagu yang dia nyanyikan? Apa bener lagu tersebut lagu ‘wedding’ seperti apa yang ditulis oleh komentator? Pokoknya, bila sudah mendengarkan lagu tersebut seakan dibuai dalam lamunan  yang mendalam ke dunia nan indah tiada tara……

Yah, Makka Sagaipova seorang muslim Checnya yang lahir di Uni Sovyet beberapa tahun yang lalu telah merebut perhatian saya untuk mencari tahu lebih dalam mengenai dirinya, namun belum cukup rangkuman tentang dirinya yang saya dapatkan di dunia maya ini.

Yuuuk kita simak alunan merdu suara Makka Sagaipova dalam judul Hyo Tsha Woo Sa penyanyi asal Chechnya ini:

Gimana? Enak banget kan??? 😉 Adakah kiranya dari pembaca blog ini yang ingin menambahkan perbendaharaan pengetahuan tentang beliau? Pleaseeeee,,, makasih sebelumnya :*
Bagi yang mau download Video Makka Sagaipova dalam judul Hyo Tsha Woo Sa ini, ini Link Downloadnya.
zhorvans.net

Archives

Categories