Kasus Deponering Seseorang

  • 0

Kasus Deponering Seseorang

zhorvans.net - gambar bingung

Bingung sayah gan! image dari liputan6.com

Baru-baru ini publik tengah dihadirkan oleh berita di media bahwa Kejaksaan Agung telah mengeluarkan Deponering terhadap kasus BW dan AS dengan alasan mengedepankan kepentingan umum.

Deponering di sini adalah ‘menyampingkan atau penghentian penuntutan perkara’ (katanya). Arti itulah yang saya dapat dari mendengar beria-berita dimedia. Tapi menurut ahli hukum, kata Deponering yang dimaksud di atas sebenarnya adalah Seponering.

Terlepas dari kata mana yang paling tepat untuk menamainya, yang jelas menurut saya sebagai orang yang buta hukum, bahwa saya telah menyaksikan DRAMA yang menjadi perhatian saya untuk menulis di blog ini. Karena masalahnya, di beberapa waktu lalu proses drama tersebut sangat menyita perhatian publik. Di saat publik menghendaki keseriusan akan penindakan kasus-kasus korupsi di negeri ini, tapi tiba-tiba proses tersebut tertunda karena ‘tersangka’ terjerat kasus yang dialaminya, sehingga proses penahanan. Namun publik kembali terkejut yang tiba-tiba pula proses penahanan itu terhenti karena deponering yang telah dikeluarkan.

Dan menurut saya seharusnya kata tiba-tiba itulah yang menjadi akar permasalahan dari drama tersebut. Karena dengan tiba-tiba juga saya tergerak untuk menulis artikel ini. Padahal kata deponering ini, bisa diartikan untuk sebuah permainan anak-anak tempo dulu, yaitu permainan ‘tak umpet’ di mana ketika seseorang yang telah menyebutkan kata ‘bela’ namun ia kalah cepat dari penjaga gawang (orang yang jaga), maka hal yang telah dilakukannya menjadi ‘hangus’ atau deponering.

Ahh sudahlah….


  • 0

Pangeran dan anak kecil di tepi sungai

Tags :

Category : Journey , Renungan , Share

IMG_20150222_095237

Maaf, fotonya bukan sedang menunggang kuda, tapi menunggang perahu…. 😉

Berlanjut dari kisah yang telah diceritakan tentang bertanya pada orang yang tepat yang telah admin share di media sosial, ada satu sahabat yang baik hati menceritakan kebalikan dari cerita di atas……

Pada suatu pagi ada seorang pangeran yg berniat menyeberangi sungai.

Pangeran itu menunggangi kuda yg tinggi dan gagah.

Namun ketika akan menyeberang, timbul keraguan dalam hatinya. Lalu ia menghampiri seorang anak kecil di tepi sungai.

“Hai anak kecil, apakah sungai ini dalam?” Tanyanya tanpa turun dari kuda.

Anak kecil itu melihat pangeran dan kudanya. “Apakah pangeran akan menyeberang dengan kuda?”

“Ya tentu saja!”

Lalu anak kecil itu menjawab riang sambil tersenyum, “menyeberang saja pangeran. Sungainya tidak dalam”

Maka pangeran pun mulai mengarahkan kudanya menyeberangi sungai. Selangkah dua langkah.. lalu kudanya meringkik tidak mau meneruskan langkahnya.

Pahamlah pangeran, ternyata sungai itu cukup dalam. Sehingga kudanya tidak mau.

Segera sang pangeran mencari anak tadi. Dengan marahnya dia membentak “Hai anak kecil! Kamu sudah membohongiku!!”

“Membohongi apa pangeran. Hamba tidak akan berani” jawabnya.

“Kau bilang sungai ini tidak dalam, Tapi ternyata kudaku tidak mau menyeberang karena dalam” bentaknya.

Anak kecil itu menatap lekat kuda sang pangeran lalu menjawab polos.

“Saya tidak bohong pangeran. Tiap hari saya melihat itik berenang menyeberang bolak balik di sungai ini, dan mereka tidak tenggelam. Padahal kaki mereka kecil. Sedangkan pangeran dengan kuda. Kakinya panjang. Pasti tidak akan tenggelam”

Mendengar jawaban sang anak, pangeran tersadar, ia telah bertanya pada orang yg salah.

#diceritakan sederhana versi saya. Hehe….

-Liz


  • 0

Pengemis dan Mangkoknya

pengemis dan mangkoknya

Kita sering tidak menyadari, bahwa harta yg paling berharga terkadang sudah ada dalam genggaman kita. Namun tanpa kita sadari, kita tidak menghiraukannya…

Seorang pengemis duduk di tepi jalanan ramai memegang sebuah mangkok usang. Wajahnya pucat menggigil di sebelah anak semata wayangnya. Karena lapar dan tak kuat menahan dingin, maka pengemis itu pun mati kedinginan dan kelaparan.

Sakin begitu miskin papa nya pengemis itu, sampai ia tak mewariskan apapun, hanya mangkok usang yang dipakainya menadah uang, adalah harta warisan satu satunya. Sang anak yang masih kecil hanya bisa menggunakan mangkok itu pun untuk mengemis.

Sampai saat ia usia remaja, ia memperhatikan orang berpakaian rapi, makan enak, dan ada seraut senyum bahagia di wajah mereka. Hatinya sungguh ingin hidup seperti mereka. Seolah Tuhan sedang sangat memperhatikan dirinya, tiba tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya.

“Bolehkah kulihat mangkokmu?” Tanyanya sopan.

Sang anak pengemis itu mengulurkan mangkoknya.

Dalam benaknya terlintas pikiran polos, akan ada recehan segera dilempar ke dalam mangkoknya.

“Bolehkah kubeli mangkokmu 50 yuan?”

Pengemis itu terkejut dan tak bisa berkata apa apa. Seumur hidupnya yg diterima hanya setengah sen, hingga 10 sen sehari. Ia pun mengangguk gembira. Mangkoknya pun ditukar dgn 50 yuan. Dibelinya pakaian dan makanan, ia pun merasa layak melamar pekerjaan sebagai penjaga anjing atau penyiram pohon jeruk di kebun.

Seminggu kemudian, saat ia sedang menyiram pohon bersama pekerja lain di kebun, ia mendengar ramai orang bercerita, bahwa telah ditemukan harta peninggalan Kaisar dinasti Ming yg sangat dicari. Konon harga harta peninggalan itu, bernilai jutaan. Ia pun penasaran, ikut ikutan melihat surat kabar. Serta merta lemaslah ia melihat foto benda tersebut, yg tak lain dan tak bukan adalah mangkok peninggalan mendiang ayahnya..!!!

Hikmah yg bisa kita petik dari cerita di atas adalah… kita sering tidak menyadari, bahwa harta yg paling berharga yg mengantarkan kita pada kesuksesan dan kejayaan, terkadang sudahlah ada dalam genggaman kita. Namun dengan tanpa kita sadari, kita tidak menghiraukannya. Dan kita anggap itu hal yg tidak berguna.

Diceritakan kembali dengan versi saya.
-Liz


Archives

Categories